Keputusan

Kejadian 2013 lalu terulang lagi. Namun kali ini lebih sakit. Akupun sudah beberapa kali merasakan sakit sebelumnya, sampai aku selalu bertanya-tanya kapan sakit ini akan berakhir. Adakah bahagia di akhir ceritanya, atau justru hanya sakit yang terasa.

Dari awal aku sudah mengingatkan ‘jangan’ pada diriku sendiri. Karena aku tahu, pada akhirnya nanti akulah yang akan tersakiti. Dan benar saja, dalam perjalanan waktu memang aku yang sakit. Hffh.. Tapi ya sudahlah.

Aku pernah menjadi peduli, sampai di satu titik aku sadar, bahwa kepedulianku tak dihargai. Tak seperti yang kubayangkan. Sejak saat itu, akupun berusaha ‘mati-matian’ untuk membunuh rasa peduliku.

Dan sekarang kau bilang, aku tak pernah peduli padamu. Kemana saja kau? Butakah atau memang hatimu beku saat itu. Kau mungkin perlu membaca dan meresapi makna quote penulis kondang, Tere Liye ini, kawan.

“Kadang seseorang berhenti peduli bukan karena ia sudah tak peduli lagi tapi karena ia sadar bahwa kepeduliannya tak dihargai”

Itulah yang kulakukan. Sejak aku pertama kali merasakan perihnya sakit, tapi tak bisa kukatakan kepada siapapun. Aku memilih menjauh, mengobati sendiri sakitku. Sedang kau terlalu bergembira saat itu. Meskipun aku berhenti menjadi peduli, aku tetap mengawasimu dari jauh.

Ah ya, jangan pernah menantangku soal itu, apapun bentuknya. Aku tak pernah takut, walau di ujung nanti aku merasakan sepi.

Aku tak pernah takut dengan kesendirianku. Menjadi sendiri, tanpa seorangpun menemaniku. Cukuplah Allah bagiku. Yang akan mengobati sakitku, menguatkan aku. Bukankah aku sudah pernah melakukan seperti ini sebelumnya?

Aku justru merasa lebih dekat dengan-Nya sejak saat itu. Terakhir, akupun merasa takut berbuat salah dan dosa karena perbuatanku yang satu itu. Semoga ini akan selalu kuingat sampai kapanpun, dan menjadi penguat hatiku.

Hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam. “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang (jauh) lebih baik”

Mungkin yang terjadi ini, jawaban dari doaku.

8 Ramadan 1439 Hijriah

Advertisements

Hilang

Aku memilih untuk menghilang sementara waktu dari semua rutinitas, pertemuan dan sebagainya. Tapi tak betul betul 100 persen menghilang.

Aku masih berkomunikasi dengan teman-temanku terkait pekerjaan atau lainnya, di hari pertama cuti. Seringnya ku jawab, aku tak kerja, aku cuti, tanpa mereka tahu aku cuti kemana. Ada juga yang tak ku beri tahu aku cuti, walaupun dia bertanya aku dimana. Cukup ku jawab, selamat bekerja.

Cuti ku kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Aku tak ingin mereka tahu aku pergi kemana. Aku tak ingin dicari-cari saat aku ingin menghilang.

Bahkan di keterangan form cuti, aku sengaja menulis Batam. Aku ingin menghilang sejenak. Walaupun ada satu teman yang ku beri tahu, aku kemana.

Aku hanya ingin melepas penat beban, bertukar pikiran, menyatu dengan alam. Mencari ketenangan. Kadang kala dalam kediaman, kejauhan, kita menemukan jawaban dari pertanyaan kita sendiri.

Tgl, 23 April 2018 (ditulis di atas tempat tidur)

 

Me-warning Diri Sendiri

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, perempuan dinikahi karena empat perkara. Pertama karena hartanya, kedua keturunannya, ketiga kecantikannya, dan keempat agamanya. Maka pilihlah perempuan yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.

Empat hal ini juga berlaku untuk laki-laki. Maka pilihlah yang taat beragama.

Aku sedang berpikir saat ini. Katakanlah dia, laki-laki itu kurang lancar membaca kalam-kalam Allah. Pun dia bukanlah seorang yang alim. Tapi paling tidak pintu hatinya masih terbuka.

Dia mengingat Tuhan lewat solat yang dikerjakannya.  Bukan karena dia takut kepada makhluk, tapi karena dia takut dengan azab yang ditimpakan Tuhan kepadanya.
Mungkin tatacaranya solat belum sempurna saat ini. Waktu solatpun masih diundur-undur. Tapi sekali lagi, dia masih ingat dengan Tuhannya.

Usahanya patut dihargai. Dibanding tidak solat sama sekali. Sudah diingatkanpun berkali-kali sampai berbuih, solatlah. Tapi tak juga dikerjakan. Hanya makan hati saja. Ah, siapa aku sampai harus didengarnya?

Aku sedang membicarakan seseorang di sini. Di sisi lain, aku juga membandingkannya dengan orang lain. Semua yang kutulis ini berangkat dari pengalaman sendiri. Apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan.

Suatu hari seorang teman bercerita kepadaku. Dia sudah melamar seorang perempuan untuk dinikahinya. Diapun yakin dengan perempuan itu. Sering kali, perempuan yang terpaut usia empat tahun di bawahnya itu, mengajaknya menonton film Islami. Termasuk menghadiri kajian-kajian Islam di masjid.

Secara pribadi, dia mengaku hatinya tergerak untuk menjadi lebih baik lagi. Dia sadar dia jarang solat. Dia juga malu, karena sebenarnya keluarganya termasuk orang yang kuat dalam beragama. Karena itu, dia semakin yakin, kalau dengan perempuan ini dia akan menjadi lebih baik lagi dari sisi agama.

Kuperhatikan dalam fasenya berbunga-bunga, saat itu memang ada perubahan di dalam dirinya. Dia solat. Namun lambat laun, seiring tak ada kejelasan dari si perempuan atas jawaban lamarannya, dia kembali berubah. Tidak solat. Sudahpun diingatkan, macam susah betul dikerjakannya solat itu.

Ah, macam mana dia mau jadi imam di keluarganya, dia saja susah solat, pikirku. Dan tak ada inisiatif untuk menjadi lebih baik lagi. Bukan karena dorongan orang lain, melainkan diri sendiri. Makan kaulah situ!
Akupun sudah malas. Siapa aku mesti repot-repot mengingatkannya solat? Aku bukan siapa-siapa dia. Bagaimana Tuhan mau menjawab keluh kesahnya? Sedangkan yang sudah melaksanakan solat saja, belum tentu dijawab keluh kesahnya saat ini.

Menurut aku, sejatinya dalam kehidupan berkeluarga itu, seorang istri pasti menginginkan suaminya bisa menjadi imam solat. Menuntunnya dalam kebaikan. Si suami duduk menggelar tikar sajadah di depan, si istri duduk menggelar tikar sajadah di belakang. Mereka bersama-sama solat, pun berdoa. Katakanlah mereka masih kurang ilmu agamanya, maka mereka akan belajar bersama, memperbaiki diri untuk lebih baik lagi, bersama. Ini pola kehidupan bagi keluarga yang takut dengan Tuhannya. Aku tidak membicarakan keluarga yang lain.

Di sisi lain, teman yang lain bercerita kepadaku. Dari empat bersaudara, adik-beradik, justru dia yang paling tua inilah yang paling kurang ilmu agamanya. Dia saja masih kurang lancar dalam membaca Al-quran. Tapi dia tidak malu dengan hal itu.

Kulihat beberapa kali dia solat. Bahkan sempat beberapa kali juga, walaupun kami tidak solat berjamaah, kami berada di ruang yang sama. Tentu saja posisinya solat di barisan depan, sedang aku di belakang. Kami larut dalam balutan hafalan solat masing-masing.

Ah, seandainya jalan ceritanya lain. Aku me-warning diri sendiri, jika suatu hari nanti aku dihadapkan pada dua pilihan. Mungkin di satu sisi, hatiku tertuju pada satu orang. Aku sudah nyaman dengan dia  Katakanlah aku mencintainya. Tapi dia susah sekali mengingat Tuhannya.

Di sisi lain, ada orang lain yang imannya belum seberapa, tapi dia ingat dan takut dengan Tuhannya. Katakanlah dia punya perasaan denganku, walaupun masih samar-samar, sedangkan aku tidak. Sepertinya aku mesti memberi kesempatan kepadanya untuk membuka pintu hatiku. Karena rasa nyaman dengan seseorang itu, bisa diciptakan. Tapi kalau sudah berhubungan dengan Tuhan, tak solat, ah susah.

Pertanyaannya, kapan dia datang? Hehe. Kapan-kapan.

Foto istimewa

images

Risih

Sesuatu itu kuberinama risih. Ketika tubuhmu, anggota badanmu yang bisa dibilang sensitif, dirangkul atau dipegang laki-laki, tanpa seizinmu.

Ini bukan tentang aku saja, melainkan perempuan-perempuan lainnya yang merasakan hal sama, risih. Tapi tulisan ini tidak berangkat dari ceritaku, melainkan orang lain.

Hari ini aku melihat pemandangan ketika seorang laki-laki yang punya jabatan, meminta foto bersama seorang perempuan. Tanpa merasa sungkan, ia melingkarkan tangan kirinya ke pundak sang perempuan. Seolah sudah terbiasa atau sememangnya menganggap itu hal yang biasa.

Ya, perempuan itu cantik, putih, muda dan berprestasi. Karena prestasi inipula ia bisa bekerja di lembaga pemerintah tersebut. Perempuan itu masih terhitung baru di sana.

Aku tak melihat ekspresi wajahnya sebelum diminta foto bersama. Tapi aku melihat setelahnya. Meski tak terlalu ditunjukkan, dia terkesan tidak senang.

“Ganjen kali bapak ini,” mungkin begitu kalimatnya dalam hati.

Tak sedikit di luar sana, perempuan yang terpaksa menahan penolakan hatinya karena satu dan lain hal. Utamanya karena alasan pekerjaan.

“Aku masih baru di sini”

“Apa kata yang lain. Gitu ajapun”

Mungkin itu yang menjadi pertimbangan hingga ia terpaksa diam. Aku pernah menonton drama Korea yang ceritanya seperti itu. Sang perempuan terpaksa makan hati karena diperlakukan yang tak disukainya.

Sebenarnya dia risih, tapi dia tak bisa mengungkapkannya karena terikat bekerja di instansi yang bersangkutan. Hingga suatu saat kekesalannya memuncak. Ia menonjok hidung laki-laki itu dengan satu pukulan. Ia hanya ingin laki-laki itu meminta maaf kepadanya. Tapi tak dilakukan. Cuih, hanya mau enaknya saja.

Wahai laki-laki, sadarlah. Jaga sikapmu, ucapanmu. Jangan ganjen kali kau merangkul atau memegang anggota tubuh perempuan. Pikirmu itu biasa. Ya, bagi sebagian di antara kami mungkin itu biasa. Tapi tidak bagi yang lain. Hanya membuat risih. Kau bahkan bisa kami tuntut karena pelecehan seksual. Peringatan!

Berenang-renang ke Tepian

Hari ini aku kembali belajar renang lagi. Namun tidak bersama Siska, temanku, melainkan si Fitri, adikku.

Masih di tempat yang sama, Perumahan Diamond Palace, Batam Center, di belakang gedung Lembaga Adat Melayu. Suasana tempatnya asyik, tak terlalu ramai orang, dan dari sisi harga juga terbilang murah. Hanya Rp 10 ribu. Tempat ini buka setiap Selasa-Minggu. Mulai pukul 8.00-12.00 WIB, kemudian lanjut pukul 15.00-18.00 WIB. Senin dia tutup.

Setelah dua minggu lalu aku diajarkan teknik berenang oleh Siska, tampaknya aku memang ketagihan. Karena itu aku meminta mamak untuk membelikanku baju renang seken.

Kenapa seken? Baju renang baru kalau ku lihat di toko-toko online harganya mendengik sampai Rp 300 ribuan. Padahal aku hanya sekadar ingin bisa berenang. Bukan jadi atlet atau apalah. Makanya tak mengapa seken. Murah meriah asalkan senang. Akupun membeli kacamata renang untuk melindungi mata.

Selama ini aku memang ingin bisa berenang. Ada tiga hal yang sebenarnya ingin aku pelajari, ingin bisa, sampai saat ini. Pertama berenang, kedua nyetir mobil, dan ketiga menguasai bahasa Inggris. Aku bukan tak bisa untuk ketiganya. Tapi aku belum bisa, atau bisa dibilang tidak percaya diri. Mungkin begitu.

Makanya, aku ingin memulai lagi belajar satu persatu dari ketiganya. Menurut aku mereka penting untuk dipelajari. Soal renang, aku beberapa kali punya pengalaman. Ya, bisa dibilang tidak bagus.

Pertama, aku masih ingat jelas kejadiannya dulu, 6 Agustus 2016 di danau buatan Marina, dekat kolam pembibitan. Seorang temanku, Dwandy Jaya Saputra meninggal dunia. Ia tewas tenggelam di danau itu saat camping pelatihan bantara Pramuka. Dari informasi yang ku dapat, almarhum tidak bisa berenang. Tak perlulah ku ceritakan bagaimana kejadiannya saat itu. Yang jelas itu dimuat di surat kabar.

Sejak saat itu aku ingin belajar renang. Kedua, aku juga punya pengalaman tak menyenangkan saat liputan ke Pulau Pemping di Belakangpadang. Kami ketinggalan kapal Pak Dahlan. Alhasil aku, bang Ardi, bang Galih, bang Bayu naik perahu kecil mengejar pak Dahlan.

Singkat cerita, perahu kami suxah berada di laut dalam. Pemandangan kapal-kapal besar di sekeliling kami terlihat. Pun dengan gedung pencakar langit dari negara seberang, Singapura.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan perahu yang kami tumpangi? Ombak saat itu tinggi, perahu kami terombang-ambing di lautan. Bahkan air laut itu sudah masuk ke dalam perahu kami.

Aku hanya bisa merapal doa saat itu. Meski aku tak bisa berenang, aku pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Bisa saja kapal itu tenggelam, terbalik atau lain sebagainya.

“Bang, aku tak bisa berenang,” kataku.

Aku masih ingat jelas kalimat yang kuucapkan kepada bang Ardi saat itu. Alhamdulillah, pikiran buruk itu tak menimpa kami. Namun tetap saja aku harus bisa berenang.

Mungkin kini saat yang tepat aku belajar renang. Apalagi pintu hatiku sudah terbuka. Niat dan sering berlatih saja. Menurutku, suatu hari nanti aku juga Insha Allah akan bisa berenang. Untuk menjaga keselamatan diriku utamanya. Bisa juga untuk membantu orang lain. Selamat belajar…

This slideshow requires JavaScript.

Gara-gara Cokelat

Aku tak senang kehidupan pribadiku diatur-atur orang. Sama halnya dengan hal remeh aku tak senang, ketika cokelat yang ku letakkan di dalam kamar diambil diam-diam dan dimasukkan ke dalam kulkas.

Mungkin tujuannya baik. Biar tak lembek. Tapi semestinya itu atas sepengetahuan aku. Karena aku sudah punya pemikiran sebelumnya, akan dikemanakan cokelat itu.

Ah, aku tak senang. Sebelumnya cokelat ini ada dua batang. Itu pemberian orang. Bukan perkara tak senang karena cokelat ini dimakan bersama, tapi aku sudah memisahkan kedua cokelat ini. Dan sudah punya rencana untuk keduanya.

Aku tahu dia lembek. Tepatnya satu lembek, dan satu masih keras. Cokelat pertama kumasukkan ke dalam kulkas. Itu artinya kalaupun mau dimakan ya cokelat pertama itu, dan bilang dulu dengan aku. Biar aku tahu. Aku pun ikhlas saja kalau mau dimakan. Aku tak terlalu ‘suka sekali’ dengan cokelat. Tergantung rasanya.

Cokelat itu sudah kubiarkan beberapa hari di dalam kulkas. Ah aku juga tak terlalu perhatian. Di saat aku ingin memakan cokelat itu, sebenarnya aku sudah melihat bungkusan yang sama di dalam kulkas. Ada dua bungkus berwarna sama.

Tapi karena aku ingat hanya satu cokelat yang ku masukkan, dan ku pikir bungkusan cokelat lainnya itu es krim dan sudah dalam kondisi terbuka, aku hanya fokus pada satu bungkus cokelat. Dan itu juga yang aku buka.

Ternyata, tanpa sepengetahuanku cokelat yang ku sisihkan itu juga sudah dimasukkan ke dalam kulkas. Dan hasilnya, sama-sama sudah termakan.

Ah, aku tak senang. Apapun itu yang menyangkut aku, barang milik aku, mestinya disampaikan dulu dengan aku.

Keterangan: hanya ingin meluahkan kekesalan.

Jangan Baper-an

Peringatan kedua. Kata-kata tanpa diikuti perbuatan sama saja dengan bohong. Tak ada artinya. Itu kualamatkan kepada yang namanya perasaan. Lagi-lagi soal perasaan.

Tapi ini bukan tentang aku. Melainkan orang lain, dia. Jangan terlalu mudah mengumbar perasaan. Entah itu suka, kagum, greget atau lainnya.

Tak perlulah kau mengucapkan atau menulis kata-kata tak berarti itu, tanpa sikap yang jelas. Hanya akan menyakitkan sekarang atau pada akhirnya nanti. Tak ada kepastian.

Aku tak butuh kata-kata itu. Lebih baik kau simpan, diam tanpa kata. Itu lebih bagus. Sikap yang kau tunjukkan lebih jelas. Tidak bermakna ganda.

Sekalipun kata-kata diperlukan, bagiku perbuatan lebih utama. Sementara kata-kata hanyalah pendukung.

Kau tak perlu berkata banyak. Jika perbuatan dan kata-katamu tak sejalan. Ini kembali soal hati yang mungkin akan tersakiti, bilamana persepsinya berbeda dengan kenyataan sebenarnya.

Untungnya aku sudah belajar melepaskan sejak November lalu. Ya, melepas perasaanku kepadamu. Aku mengikuti firasat dan kata hatiku. Sehingga aku tak terlalu memasukkan lagi ke dalam hati, apapun yang kau ucapkan. Baik lisan maupun tulisan.

Tapi bagaimanapun itu, tetap saja aku masih perlu mengingatkan pada diriku, hati kecilku sendiri. Kata-kata kau tak berarti apa-apa. Agak melelahkan memang.